Selasa, 17 Januari 2017

Cerita sex nyata - Kakek Horny Perkosa Cucu Kandung yang Mulus

Posted by Unknown on 01.34


CERITA SEX NAYTA - Kakek tua yang seharusnya mencari bekal untuk persiapan kematiannya malah justru berbuat cabul terhadap cucunya. Dasar tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, nafsu telah membutakan segalanya. Seperti apa kisah cerita sex sedarah ini, simak berikut ini...

Perkenalkan namaku Erickson (bukan nama sebenarnya), saat ini usiaku telah menginjak 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan main perempuan aku pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku 13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus. Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Wenny, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain.

Wenny sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Wenny harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.

Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Enny dan Nurul, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Enny dan adiknya Nurul sedang menagis meraung-raung di depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Enny dan Nurul masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.


Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Enny usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Nurul usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Enny sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.

Suatu hari ketika Enny pulang aku masih terbangun, Enny langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Enny, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Enny di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Enny yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Enny.

Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Enny dan Nurul sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Enny sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Enny ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Enny, Enny sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Enny pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Enny sedang asyik-asyiknya onani.



“Enny… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Enny yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Enny.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”

Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Enny asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku. “Enn… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Enny bergeser untuk dipangku. Enny yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Enny nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”

Tiba-tiba Enny menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Enny yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.

“Enny.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Enny khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Enny menegangkan tubuhnya.

“Ah… Ah… ssh.. sshh…” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Enny. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.

“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Enny… Enny jadi suka banget nih.”
“Iya… Enny, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Enny yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya.

Enny pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Enny jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Enny yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh Enny setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.

Setelah tubuhku tertiban kuangkat Enny dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Enny aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya.

Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Enny yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Enny pun menjerit.

“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”
Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Enny, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Enny. Enny pun 15 kali menjeritnya. “Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Enny berubah menjadi kenikmatan.
“Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Enny.. terus… Kek!”
“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”

Enny hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Enny yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Enny makin belingsatan.

Setelah satu jam, lubang kemaluan Enny kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Enny yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Enny telah kurusak sendiri. Enny pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Enny… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…”

Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Enny dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Enny dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Enny. “Aw.. agh.. agh.. Enny.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng… hebat…”
Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.

“Kakek… habis… ngapain.. Kakak Enny… kok… Kakak Enny dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Nurul juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Enny.”
“Hah.. Nurul jangan… telanjang!”

Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Nurul yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Nurul pun bugil. Aku terkejut melihat Nurul bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Nurul yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Enny. Kulit tubuh Nurul pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Enny, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.

“Kek… Nurul kan tadi ngintip ketika perut Kakak Enny dimasukin sama punya kakek.. Nurul juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Enny dapat sesuatu pasti Nurul juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Nurul mau sekali.”

Tanpa banyak basa-basi kusuruh Nurul terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Nurul langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Nurul menutup mata. “Nurul sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Nurul hanyaboleh bilang sakit.”

Nurul pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Nurul mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya.

Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Enny maka lubang kemaluan dan klitoris Nurul rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.

“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Nurul.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Nurul sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Nuruldan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Nurul yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Enny. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Nurul. 25 kali juga Nurul menjerit.

“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Enny.”
“Iya Kek… Nurul mau… Nurul tahan aja deh sakitnya.”

Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Nurul kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Nurul, ini karena lubang kemaluan Nurul masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya. “Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Nurul nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Nurul ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Nurul ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Nurul keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Nurul pun langsung pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Nurul.. nggak kuat… Kek… Nurul.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”

Pingsannya Nurul tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Enny, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Nurul sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Nurul dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Nurul yang masih mengeluarkan lendir.

“Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Nurul yang pingsan di atas karpet dan Enny yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Enny dan Nurul sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.

“Enny.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Enny puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Nurul jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”

Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku.

Kamis, 05 Januari 2017

Nafsu Sex Tante ku Luar Biasa

Posted by Unknown on 02.37


CERITA SEX NYATA - kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang remaja yang bernama Tegar. Saat itu tegar yang di mintai bantuan oleh istri pamanya yang bernama Tante Wina, berakhir dengan sex didalam kamar mandi. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Namaku Tegar, kini usiaku baru menginjak 16 tahun. Aku kan mnceritakan cerita sex yang bisa diblang hubungan sedarah dengan istri pamanku. Berawal ketika aku lulus SMP ( sekolah menegah pertama), saat itu aku mendapatkan peringkat baik dan nilai yang bisa dibilang mendekati sempurna. Sebelum aku lulus SMP aku mempunyai cita-cita untuk meneruskan pendidikan SMA ( sekolah menengah akhir) disekolahan Favorit di luar kota.

Kebetulan sekolahan yang aku idamkan itu letaknya terbilang dekat dengan rumah pamanku, karena jika ditempuh dengan angkutan umum hanya 15 menit dari rumah pamanku. Papah-ku pernah berjanji kepadaku, jika aku lulus dengan nilai baik, maka aku boleh sekolah dimanapu sesuai keinginanku. Pada akhirnya aku-pun menagih janji Papah-ku itu. Singkat cerita aku-pun diterima disekolahan yang aku idamkan itu dan aku selama sekolah dititipkan dirumah pamanku.


Nama pamanku adalah paman Arich, beliau adalah seorang yang mempunyai harta berlebih atau bisa dibilang kaya raya. Seperti yang aku katakan tadi, karena pamanku orang kaya maka rumahnya-pun sangat megah dan letak rumahnya-pun dengan kota. Dengan bangunan 2 lantai, halaman rumah luas dan tentunya seisi rumahnya-pun tentu dipenuhi dengan barang mewah. Paman Arich ini adalah orang yang sangat sibuk dengan usahanya.

Paman Arich ini mempunyai istri yang sangat cantik dan mempunyai tubuh yang ideal dan sexy. Nama istri paman adalah Tante Wina, dari pernikahan Paman dan tante Wina mereka telah dikaruniai anak yang masih berusia 3 tahun. Walau-pun Tante Wina sudah mempunyai 1 orang anak, namun tubuhnya masih terlihat seperti anak ABG saja. Mungkin karena dia orang kaya yah, jadi dia dengan mudahnya mengeluarkan biaya untuk perawatan tubuhnya.

Tubuhnya yang putih mulus dan sexy itu, memang sangat indah dimata para lelaki. Tante Wina ini juga mempunyai pantat yang kencang dan buah dada kira-kira berukuran 34 C. Hal itu sungguh membuatku sangat kagum kepada tante Wina. Oke sekarang lanjut ke alur cerita, kini aku-pun telah berada dirumah Paman Arich. Sesampainya dirumah Paman Arich, aku-pun disambut oleh Paman Arich dan tante Wina.

Saat itu paman Arich-pun menghampiriku dan aku-pun berjabat tangan dan mencium tanganya, setealh aku selsai berjabat tangan dengan paman Tante Wina-pun menyambutku denagn ciuman dipipi-ku. Sebenarnya aku agak kaok karena aku tidak terbiasa denga ciuman seorang wanita, meskipun dia adalah istri pamanku sendiri. Namun sudahlah aku anggap saja angin lalu. Setelah itu kemudian pembantu pama-lupun membawakan tasku dan mengantarkan aku di kamar yang akan aku temapti.

Sesampainhya dikamar aku sungguh sangat takjub, aku menempati kamar yang besarnya 3 kali lipat dari kamar tidurku yang ada dirumahku. Setelah itu aku berkeliling rumah, sempat melihat kamar mandi yang tak terbayang olehku. Disana terdapat washtafel dengan cermin yang besar wc duduk, bathup, dan dua shower yang satu dengan kaca buram sedangan yang satu dengan kain yang diputarkan membentuk 1/4 lingkaran. Tempat itu masih dalam satu ruangan tanpa penyekat.

Waktu-pun berlalau, pada sore hari-nya, aku-pun duduk ditepi kolam renang, ketika aku sedang bersantai Paman Arich datang menghampiriku dan beliau berkata dia akan pergi keluar kota untuk kperluan bisnisnya. Saat itu dia berpamitan dan meminta maaf padaku karena dia tidak bisa menemaniku. Sesaat kemudian pamanku-pun akan bernagkat keluar kota, aku dan ante Wina-pun mengantarkan beliau sampai pagar rumah.

Setelah kepergian Paman saat itu kami-pun kembali masuk kedalam rumah. Aku-pun saat itu kembali duduk dan menikmati suasana sekeliling Rumah dan Kolam renang itu. Ketika au sedang bersantai, tiba tiba dari belakangku muncul sesosok yang cantik dan menggairahkan, Rupanya yang datang adalah Tante Wina dengan baju kimono kemudian tante Wina-pun menghampiriku,

“ Hemmm… Gar kamu suka nggak sama rumah pamanmu ini ? ”,

“ Iya dong Tante, siapa sih yang nggk suka tinggal dirumah semewah ini,KAYAK aku bakalan betah deh tante tinggal disini, apalagi aku bisa berenang sesukaku dan kapanku aku mau, hhe.., ”

“ Syukur deh kalau gitu Gar, Emmm… ngomong-ngomong kamu suka renang yah, yok kita renang bareng Gar, pas banget soalnya di cuaca panas gini kalau buwat berenang, ”

“ Ayok tente, kebetulan aku juga suka berenang, ”

Sungguh kesempatan bagus nih karena aku bisa berenang dengan tante sebohay ini, hhe. Ketika pertama kali bertemu aku hanya bisa membayangkan bentuk tubuhnya saja, dan sekarang aku bakalan bisa melihat tanteku dengan baju renag, mantap cuy. Kini tante Wina-pun berdiri dan mulai membuka kimono-nya. Saat itu terasa dag dig dug sekali jantungku ketika melihat Tante Wina yang kini hanya memakai baju renang.

Saat itu Tante Wina memakai baju renang yang terdiri dari bikini dan celana renang yang seperti G-string terpampang di depan kedua mataku,

“ Wah… aku kira Tante tadi bakalan telanjang, wkwkwk, ” ucapku dengan polosnya.

“ Hemmm… ntar keenakan kamu kalau Tante telanjang, hhe, ” ucapnya bercanda.

“ Tante nggak malu apa pakai baju renang gitu dilihatin sama satpam ?, ”

“ Udah biasa kali Gar Tante pake bikini kayak gini, malahan kadang ada sekitar rumah Tante kampung ngintip Tante, ”

“ Benar Tante… Tapi sayang aku lupa bawa celana renang, ”

“ Ah… Nggak apa apa pake aja dulu celana dalam kamu. Nanti aku suruh bi’ Imah suruh beli buat kamu, yuk nyebur.., ” segera Tante menyeburkan dirinya.

Dengan malu malu aku membuka bajuku tapi belum buka celana. Aku malu ama Tante. Lalu dia naik dari kolam. Dia mendekatiku,

“ Ayo cepet… Malu ya ama Tante nggak apa apa. Kan kamu keponakan Tante. Jadi sama dengan kakak perempuan kamu, ”

Waktu dia mendekatiku terlihat jelas putingnya menonjol keluar. Maklum nggak ada bikini pake busa. Aku melirik bagian buah dadanya. Dia hanya tersenyum. Setelah itu dia kembali menarikku. Tanpa basa basi dengan muka tertunduk aku melorotkan celana dalamku. Yang aku takutkan kepala Penis-ku kelihatan kalau lagi tegang menyembul dibalik celana dalamku. Setelah melepas celanaku langsung aku berenang bersama Tante.

Setelah puas renang aku naik dan segera ke kamar mandi yang besar. Aku masuk disana ketika aku ingin menutupnya, tidak ada kuncinya jadi kalau ada orang masuk tinggal buka aja. Aku segera bergegas tempat dengan penutup kain. Aku tanggalkan semua yang tertinggal ditubuhku dan aku membilas dengan air dingin. Ketika hendak menyabuni tubuhku.

Terdengar suara pintu terbuka, aku mengintip ternyata Tanteku yang masuk. Spontan aku kaget aku berusaha agar tidak ketahuan, ketika dia membuka sedikit tempatku aku kaget dan segera menghadap ke belakang,

“ Ehh… Maaf ya Gar aku nggak tahu kalau kamu ada didalam. Habis nggak ada suara sih, ”

Langsung segera wajahku memerah. Aku baru sadar kalau Tante sudah menanggalkan bikini bagian atasnya. Dia segera menutupinya dengan telapak tangannya. Aku tahu waktu tubuhku menghadap kebelakang tapi kepalaku lagi menoleh kepadanya,

“ Maaf… Juga Tante… Ini salahku, ” jawabku yang seolah tidak sadar apa yang aku lakukan.

Yang lebih menarik telapak tangan Tante tidak cukup menutupi semua bagiannya. Disana terdapat puting kecil berwarna cokelat serta sangat kontras dengan besarnya buah dada Tante,

“ Tante tutup dong tirainya, akukan malu, ”

Segera ditutup tirai itu. Dengan keras shower aku hidupkan SEOlah olah aku sedang mandi. Segera aku intip Tanteku. Ternyata dia masih diluar belum masuk tempat shower. Dia berdiri didepat cermin. Disana dia sedang membersihkan muka, tampak buah dadanya bergoyang goyang menggairahkan sekali. Dengan sengaja aku sedikit membuka tirai supaya aku dapat melihatnya. Aku bermain dengan Penis-ku yang langsung keras.

Kukocok dengan sabun cair milik Tante. Ketika aku intip yang kedua kali dia mengoleskan cairan disekujur tubuhnya. Aku melihat tubuh Tante mengkilap setelah diberi cairan itu. Aku tidak tahu cairan apa itu. Dia mengoleskan disekitar buah dadanya agak lama. Sambil diputar putar kadang agar diremas kecil. Ketika sekitar 2 menit kayaknya dia mendesis membuka sedikit mulutnya sambildia memejamkan mata.

Sambil menikmati pemandangan aku konsentrasikan pada kocokanku dan akhirnya,

“ Crotttt… Crotttt… Crotttt… Crotttt… ”,

Sperma-ku tumpah semua ke CD bekas aku renang tadi. Yang aku kagetkan nggak ada handuk, lupa aku ambil dari dalam tasku. Aku bingung. Setelah beberapa saat aku tidak melihat Tante di depan cermin, tapi dia sudah berada di depan shower yang satunya. Aku tercengang waktu dia melorotkan Celana dalamnya dengan perlahan lahan dan melemparkan Celana dalamnya kekeranjang dan masuk ke shower.

Setelah beberapa kemudian dia keluar. Aku sengaja tidak keluar menunggu Tanteku pergi. Tapi dia menghampiriku,

“ Garkoklama banget mandinya ? Hayo ngapain didalam, ”

Kemudian aku mengeluarkan kepalaku saja dibalik tirai. Aku kaget dia ada dihadapanku tanpa satu busanapun yang menempel ditubuhnya. Langsung aku tutup kembali,

“ Tegar malu ya, nggak usah malu akukan masih Tantemu. Nggak papalah?, ”

“ Anu Tante aku lupa bawa handuk jadi aku malu kalau harus keluar, ”

“ Aku juga lupa bawa handuk, udahlah kamu keluar dulu aja. Aku mau ambilkan handukmu, ”

Tante sudah pergi. Akupun keluar dari shower. Setelah bebrapa menit aku mulai kedinginan yang tadi Penis-ku mengeras tiba tiba mengecil kembali. Lalu pintu terbuka pembantu Tante yang usianya seperti kakakku datang bawa handuk, akupun kaget segera aku menutupi Penis-ku. Dia melihatku cuma tersenyum manis. Aku tertunduk malu. Setelah dia keluar, belum sempet aku menutup kejantananku Tante Wina sudah masuk lagi.

Namun Tante Wina saat itu masih dengan posisi telanjang dan hanya mengenakan g-string saja,

“ Ada apa Tante, Kok masih telanjang, ” jawabku sok cuek bebek padahal aku sangat malu ketika Penis-ku berdiri lagi.

“ Sudah nggak malu ya…, anu Gar aku mau minta tolong, ”

“ Tolong apa Tante kok serius banget, Tapi maaf ya Tante adik Tegar berdiri, ”

Saat itu dia malah tertawa,

“ Idih itu sih biasa kalau lagi liat wanita telanjang, ” jawab Tante.

“ Begini aku minta Tegar meluluri badan Tante soalnya tukang lulurnya nggak datang, ”

Perasaanku bagaikan disambar petir di siang bolong, jujur saja aku belum pernah pegang cewek sejak saat itu. kini pucuk dicinta ulam-pun tiba,

“ Mau nggak…?

“ Ma… ma… mau Tante, ” jawabku dengan sedikit gugup.

Kemudian Tante Wina-pun bergegas berbaring dengan posisi tengkurap. Kini aku-pun memulai melumuri punggung Tante dengan lulur dan aku ratakan di semua bagian tubuhnya. Tanpa sengaja tiba-tiba handukku terlepas, hal itu membuat kejantanaku-pun menonjol tanpa ada terhalangi apapun. Kemudia aku-pun secara spontan langsung menutupi kejantananku dengan tanganku,

“ Sudah biarin aja, yang ada cuma aku dan kamu apa sih yang kamu malukan, ”

Dengan santainya dia menaruh handukku kelantai,

“ Tubuh Tante bagus banget, Walaupun sudah punya anak tetap buah dada Tante besar lagi kenceng, ”

Aku berbicara waktu aku tahu buah dadanya tergencet waktu dia tengkurap. Dan dia hanya tersenyum. Aku sekarang meluluri bagian pahanya dan pantatnya,

“ Gar berhenti sebentar, ”

Akupun berhenti lalu dia mencopot celana dalamnya. Otomatis Penis-ku tambah gagah. Aku tetap tak berani menatap bagian bawahnya. Setelah beberapa waktu dia membalikkan badan ke arahku. Lagi lagi aku tersedak melihat pemandangan itu,

“ Tegar anu kamu lagi tegang tuh, masukin ke Anu tante Mau ???, ”

“ Hahhhhh… tante yang bener aja. Jangan bercanda gitu ah tante, ” ucapku.

“ Serius Tante Gar, kamu mau nggak ??? buruan masukin Titit kamu ke Vagina Tante !!!, ”

“ I… Iya tante, ” ucapku dengan sedikit gugup.

Tanpa berfikir panjang aku-pun mulai beraksi dengan berbekal sedikit pengalaman ketika aku menonton film porno dulu,

“ Aku masukin ya Tante ???, ” ucapku memastikan lagi.

Saat itu Tante Wina-pun hanya mengangguk dan aku-pun mulai membasahi kejantananku dengan ludahku dan mulai aku benamkan dan,

“ Blessssssssssss…, ”

Masuklah kejantananku kedalam Vagian Tante Wina. Saat itu aku yang baru pertama kali bersenggama aku-pun mengenjot Vagina Tante Wina dengan liarnya. Terus menerus aku menngenjot Vagina Tante Wina dengan cepat dan liarnya,

“ Oughhh… Ssssssss…. Enak tante … Aghhhh…, ”

“ Ughhhh… kamu liar sekali gar… Aghhh…. Terus Gar, kalau udah nggak kuat keluarin aja didalem Gar… Aghhhh, ”

Dengan penuh semnagat aku terus menggenjot Vagina Tante Wina dengan penuh nafsu. Ditengah genjotan kejantanan pada Vagina-nya dia meminta aku aku mengolesi lulur pada buah dadanya. Dia suruh aku supaya agak meremas remasnya. Aku pun ketagian acara itu disana aku melihat puting berwarna coklat muda lagi mengeras. Masih dengan mengenjot liang senggama-nya sesekali aku menyeenggol putingnya dan aku sentil.

Saat itu Dia memekik dan mendesah seperti ulat kepanasan,

“ Iya seperti itu Gar, terus remas… Ssssss… Aghhh… terus genjot dan remas yang kuat Gar, Oughhh…, ”

Karena aku baru pemula dalam hal sex, setelah kira-kira 10 menit aku-pun merasa ada yang endesak dari kejantanaku,
“ Tante kayaknya akau mau keluar nih… Oughhhh, ”

“ Tante juga Gar, udah keluarin didalem aja… Sssssssss… Aghhhhhhhh, ”

Selang berapa detik pada akhirnya kejantananku menyemburkan lahar panasnya,

“ Crotttttttttt…. Crottt… Crottt… Crottt…, ”

“ Oughhhhhh… enak sekali tante rasanya, lega sekali tante, ”

“ Wah puas ya kamu, sekrang kamu harus puasin tante, sekarang gosok-gosok itil tante ya gar , yang ini yah digosok terus!!!, ” ucapnya dengan wajah yang agak kecewa.

tanpa menjawab aka-pun mulai menyentuh Clitoris/itil-nya, ketika aku menyentuh clitoris Tante Wina, Aku disuruhnya terus mengusap usap daerah itu, kadang aku tekan bagian keduanya,

“ Oughhhh… Gar enak sekali, terus Gar jangan berhenti, Aghhhh…, ”

Setelah kira-kira 5 menit aku terus gosok dengan lembut tiba tiba Tante menegang dan,
“ Syurrrrr… Syurrrrr… Syurrrrr…,”

Aku mencari sumber bunyi yang pelan tapi jelas. Aku tahu kalau itu berasal dibagian sensitif Tante. Lalu dia terkulai lemas,

“ Makasih ya atas lulur plus-plusnya ya Gar, Untung ada kamu. Ternyata kamu ahli juga ya, ”

“ Hehehe, iya dong Tante, pokonya kalau halKAYAK gini aku bisa andalkan deh Tante, ”

Setelah itu, Tante Wina-pun pergi dari kamar mandi itu. Aku memakai handuk untuk menutupi bagian tubuhku. Aku mengikutinya dari belakang. Ternyata dia berjalan jalan dirumah tanpa sehelai benang pun. Aku pun segera masuk ke kamar tidur yang dipersiapkan, tenyata ada pembantu yang tadi mengambilkan handuk sedang menata pakaianku ke dalam almari,

“ Den, Tegar, tadi kaget nggak ngeliat ibu telanjang, ” sebelum aku jawab.

Dia memberitahukan kalau Tante itu suka telanjang dan memamerkan tubuhnya ke semua orang baik perempuan maupun laki laki tapi tidak berani kalau ada suaminya. Pembantu itu juga memberitahukan kejadian yang aneh dia sering renang telanjang dan yang paling aneh kadang kadang ketika dia menyirami bunga dia telanjang dada di depan rumah tepatnya halaman depan, padahal sering orang lewat depan rumah,

“ Sudah ganti sana CD ada didalam almari itu tapi kayaknya anunya den Tegar masih amatir, ” dia menggodaku.
Setelah melewati beberapa hari akupun sering mandi sama Tante bahkan hampir tiap hari. Semakin dipandang tubuhnya makin oke aja. Itu semua pengalaman saya hidup dirumah Tante Wina yang aduhai. Tapi aku kecewa waktu aku meninggalkan rumah itu. Aku disana belum genap satu tahun. Karena harus balik lagi ke rumah karena ayah ibuku bekerja diluar kota dan aku harus tunggu bersama kakak kandungku. Selesai.

Senin, 02 Januari 2017

Olive si Cilik yang Membara

Posted by Unknown on 02.51


CERITA SEX NYATA - Menyuguhkan cerita sex dari seorang mahasiwa tingkat akhir yang merenggut keperawanan gadis SMP, yang tidak lain anak itu adalah anak teman kakaknya sendiri. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Sebut saja namaku Adly, aku seorang mahasiswa dari salah satu kampus pariwisata di kota bandung. Kebetulan aku ini sudah mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi di Bandung, jadi kegiatanku pada setiap harinya hanyalah mengerjakan skripsi karena tugas-tugas dan mata kuliah sudah tidak ada lagi.
Karena terbilamg aku punya banyak waktu luang, maka aku-pun sering berkunjung ketempat kakak-ku di Jakarta. Pada suatu hari aku-pun pergi ke Jakarta, sesampainya di rumah kakak-ku aku melihat ada tamu. Karena kakak-ku melihat aku yang sedang datang maka kakakku-pun menyuruhku masuk dan, aku-pun dikenalkan kakakku kepada tamu itu.



Omong punya omong ternyata rupanya tamu itu adalah teman kakak-ku semasa kuliah, teman kakak-ku itu bernama bang Rehan. Bang Rehan ini orangnya amatlah ramah dan baik kepadaku, dia berusia sepantaran dengan kakak-ku aitu 39 tahun. Dari perkenalan ketika dirumah kakak-ku itu, pada suatu hari aku-pun diundang untuk bermain kerumah bang Rehan.

Karena memang aku berniat untuk bermain, apa salahnya jika aku aku mengiyakan undangan bang rehan kerumanya. Pada keesokan harinya aku-pun bermain kerumah bang Rehan, sesampainya disana seperti biasa bang Rehan menyambut aku dengan ramahnya. Setelah aku dipersilahkan masuk, maka aku-un dikenalkan bang Rehan kepada anak dan istrinya.

Shela nama istri bang Rehan, setelah berkenalan kami-pun kemudian menuju ruang tamu bang Rehan untuk mengobrol disana. Obrolan demi orolan-pun berlalu, dari obrolan kami tadi aku baru tahu kalau selisih usia teh Shela ini usianya 5 tahun lebih muda Bang Rehan. Teh Rani dan bang Rehan telah dikaruniai 1 anak yang sudah beranjak dewasa yaitu bernama Olive.

Singkat cerita 3 hari setelah aku kenal dengan Bang Rehan, saat itu tepatnya pada hari Rabu, dimintai tolong oleh bang Rehan untuk menemani dan menjaga Olive di rumahnya. Karena pada saat itu bang Rehan dan istrinya akan pergi ke Surabaya untuk menjenguk ibu dari istri bang Rehan yang sedang sakit dukup serius dan telah dirawat dirumah sakit.

Dari kabar adik istri bang Rehan, katanya bang rehan dan istrinya harus segera kesana, karena mertua bang rehan selalu menanyakan bang Rehan dan teh Shela. Maklum karena katanya bang Rehan Teh Shela ini adalah anak kesanganya dan begitu juga bang Rehan adalah menantu kesayangan mertuanya.
Sebagai menantu kesaynagan bang Rehan-pun segera meminta cuti kerja selama 1 minggu. Setelah mendapat cuti bang Rehan dan Teh Shela-pun segera berangkat, sedangkan Olive tinggal dirumah denganku karena dia harus bersekolah. Hari demi hari-pun berlalu, tidak terasa aku-pun telah tinggal dirumha bang Rehan selama 3 hari.

Tidak kusangka pada saat itu aku merasa jenuh sekali, karena ketika pagi sampai siang aku dirumah bang Rehan sendirian karean si Olive pada jam-jam itu dia bersekolah. Untuk menghilangkan kejenuhanku pada saat itu, aku-pun menyalakan DVD dan memutar sebuah kaset DVD yang berisikan film action.
Singkat cerita aku-pun telah selesai memutar 1 film action tersebut, karena sudah selesai maka aku-pun segera mencari kaset DVD lainya. Ketika aku sedang meilih-milih kaset, tidak sengaja aku menemukan bebrapa kaset porno yang nampaknya adalah koleksi dari Bang Rehan. Wah, kebetulan sekali aku sedang dirumah sendirian.

Melihat suasana yang memungkinakan itu, aku-pun segera memutar kaset BF itu, ditengah asiknya aku menonoton film dewasa itu, tidak kusangka tiba-tiba terdengar pintu depan terbuka, beteapa kagetnya aku saat itu. Dengan buru-buru aku-pun segera mematikan televisi dan menyimpan bungkus kaset DVD di bawah karpet. Ternyata yang datang adalh Olive,
“ Hallo, Bang Adly, ” ucap Olive meyapaku kemudian dia baru masuk kerumah dan tersenyum.
Sambungnya lagi,
“ Oh iya Bang, tolong bayarin ojek Olive dong bang, Olive nggak ada uang receh, abang ojeknya nggk punya kembalian nih, ” Ucapnya padaku.
“ iya bawel, ” jawabku singkat.

Kemudian aku-pun segera keluar untuk membayar ongkos ojek Olive. Setelah membayar saat itu akupun segera masuk kedalam rumah kembali. Waduh, habislah aku, pada saat itu Olive dengan santainya duduk di karpet di depan TV, dan menyalakan Tv itu. Sungguh bodoh sekali aku, aku lupa tidak mematikan DVDnya.

Alhasil diputarlah Film BF yang sedang setengah jalan tadi oleh Olive. Mengetahui aku yang telah kembali kedalam rumah, Olive-pun memandang kearahku sambil tertawa geli,
“ Oh rupanya seperti ini yang BangAdly kalau orang lagi begituan, Olive sering banget Bang diceritain sama temen-temen sekolah, tapi Olive baru ngelihat langsung film beginian kali ini, hha, ” ucap Olive denga santai dan lugunya.

Saat itu aku bingung harus menjawab apa kepada Olive,
“ Olive, apa-apan kamu ini, ayo buruan matikan !!! kamu nggak boleh nonton film kayak gtu, kamu belum cukup umur, Ayo cepetan matiin !!!, ” tegurku kepada Olive.

“ Ihhh, BangAdly Jangan gitu dong, Tuh liat adeganya cuma begitu doing, film yang sering diceritain sama temenku di sekolah nggak ada apa-apanya sama film yang ini, huh !!!, ” ucapnya membangkang.

Entah aku harus berbuat apa saat itu, aku khawatir jika aku melarang Olive nanti justru aku akan dilaporkan kepada orangtuanya. Tanpa menjawab perkataan Olive, aku-pun pergi ke dapur untuk membuat minum dan membiarkan Olive terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di belakang membaca majalah. Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan.

Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Olive sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan astaga dia mengenakan piyama yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku-pun memanggil Olive. Oh shit man, tidak kusangka Olive pada saat itu tidak memakai BH, karena puting payudara-nya saat itu terlihat membayang dari balik piyama-nya tipis itu. Saat it aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai berdenyut-denyut tak karuan, kini Peniskku sudah menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di piyamanya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat dia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga,
“ Bang, ayo tebak coba tebak pertanyaan aku Bang, item, kecil, keringetan, apaan coba bang, ayo tebak ?, ” ujarnya.
“ Ah, itu mah gampang, semut lagi push –up . Nah sekrang abang gentian, putih, biru, kecil, keringetan, apa hayow tebak ?, ” ujarku.
Pada saat itu Olive menjawab beberapa dengan tebakannua, namun semua jawabnya salah, lalu,
“ Ini Nih jawaban yang bener, jawabnya adalah Olive pakai seragam sekolah, yang lagi kepanasan di angkot, hha…” candaanku.
“ Ihhhh, Bang Adly ngeselin deh, masak olive di ledekin, Huh…, ” jawabnya.


Saat itu Olive-pun meloncat dari sofa dan berusaha mencubit lenganku, namun pada saat itu aku menghindar dan menangkisnya. Saat itu Olive terus mencoba mencubitku, sambil tertawa. Ditengah keisenganya itu, tiba-tiba olive-pun tersandung dan secara tidak sengaja dia jatuh ke dalam pelukanku, dengan posisi membelakangiku.

Le biah detailnya pada saat itu, secara tidak sengaja tanganku menyentuh dadanya, dan dia duduk tepat di atas batang kejannan-ku, Oughhh… saat itu kami terengah-engah dalam posisi itu.
Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Entah setan apa yang merasukiku aku-pun mulai menciumi lehernya begitu saja.

Sementara itu Olive mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Olive makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang,
“ Oughh… Eughhh… Eummm…” desah Olive.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis mungil yang masih duduk dibangku SMP. Namun pada saat itu, gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku-pun khlaf begitu saja. Tanpa banyak kata, aku-pun mulai menarik keatas piyama dari tubuh mungil Olive.
Oughhh… Olive menelentang di sofa dengan posisi tubuh hampir bugil. Lalu aku-pun segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Olive yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar.
Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kewanitaan-nya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Olive. Aku pun segera membenamkan kepalaku di tengah kedua pahanya,
“ Sssss… Oughhh… Aghhhh…,” erangnya.

Tangan Olive meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kewanitaan-nya kucium. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan. Lalu Olive mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kewanitaan-nya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kewanitaan-nya mulai membuka.

Sesekali lidahku membelai kelentitnya dan tubuh Olive akan terlonjak dan nafas Olive seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Olive tergeletak terengah-engah, matanya terpejam.
Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kejantanan-ku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Olive,
“ Eummm… Eummm… Sssss… Oughhh…,”
ketika Olive membuka bibirnya, kujejalkan kepala kejantanan-ku. Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi dia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kewanitaan-nya. Segera saja kejantanan-ku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Olive dan bibirku melumat bibirnya.

Aroma kejantanan-ku ada di mulut Olive dan aroma kemaluan Olive di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kejantanan-ku ke celah di selangkangan Olive, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Olive menekan pantatku dari
belakang,
“ Oughhh… Eumm… masukin Bang, Eughhhh…,” ucapnya penuh gairah.
Perlahan kejantanan-ku mulai menempel di bibir liang kewanitaan-nya, dan Olive semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kejantanan-ku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kejantanan-ku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kejantanan-ku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan
Olive masih SMP dan ukuran lubang kewanitaan-nya terlalu kecil. Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Olive memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit.
Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kejantanan-ku membentur dasar padahal baru sedikit kejantanan-ku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kewanitaan Olive terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.
Sebentar kemudian kerutan di dahi Olive menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Olive mengernyit lagi, tapi lama-kelamaan mulutnya menceracau,
“ Aow… Sssss… Aduhhh… Eughh… terus, enak Bang, Aghhh…” racaunya menikmati tusukan kejantanan-ku.

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Olive, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Olive sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kejantanan-ku menancap di kewanitaan-nya. Tanpa perlu diajarkan, Olive segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok payudara, clitoris-nya.

Kemudian pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Olive makin menggila dan dia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kejantanan-ku.
Setelah tubuh Olive melemas, aku mendorong dia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Olive tentu merasakan semburan air maniku pada liang senggama-nya. Kemudian Olive-pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme kami,

“ Bang, Olive lemes banget nih, tapi olive puas banget sama Bang Adly, ” ucapnya penuh kepuasan.
Saat itu aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus.

Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kejantanan-ku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Olive yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya.

Sepanjang malam aku mencapai 3 kali lagi orgasme,dan Olive entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Olive kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah. Kemudian setelah olive berangkat sekolah aku-pun kembali masuk ke kamar tidur tamu dan segera tidur pulas karena kelelahan.

Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Olive pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kejantanan-ku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi. Saat itu aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan DVD menyala, dengan film yang kemarin.
Ah! Merasakan caranya memberiku kenikmatan dari kulumanya, aku baru teringat Olive bisa seperti ini dari kaset porno yang ditotonnya kemarin. Singkat cerita waktu-pun sudah seminggu berlalu. Bang Rehan dan Teh Shela-pun sudah pulang kejakarta lagi. Sepulangnya Bang Rehan aku dan Olive bersikap biasa saja seolah tidak ada apa-apa dengan kami.

Karena bang Rehan sudah pulang, aku-pun segera berkemas dan segera berpamitan untuk kembali kerumah kakak-ku. Sebelum aku keluar dari rumah bang Rehan, aku diberikan uang saku dan oleh-oleh dari surabay oleh bang Rehan. Bang Rehan dan Teh Shela mengucapkan banyak terima kasih padaku, sebenarnya aku merasa bersalah, tapi yasudahlah yang terjadi biarlah terjadi dan biarkan kisah ini menjadi pegalaman indah dan buruk untukku dan Olive. Selesai.

Senin, 26 Desember 2016

Malam Natal Yang Tak Mungkin Kulupakan sangat Menggairahkan

Posted by Unknown on 04.28



CERITA SEX NYATA - Pertama-tama saya ingin memperkenalkan namaku sebagai Alex dan kisah tak terlupakan ini terjadi pada hari ini dimana umat kristiani sedang ramai menyiapkan untuk hari natal keesokan harinya tetapi aku mencoba merayakan natal dengan caraku sendiri bersama kekasihku Novi dan teman baikku yang bernama Trisno di malam natal 2000.


Waktu bertemu Novi memakai pakaian blouse kaos ketat you can see dan panjangnya sampai tengah pahanya sehingga paha putih mulus akan terlihat jelas, blouse berwarna hitam putih berbahan tipis dan di bagian atas model tali terkait ke bahunya.
Blousenya itu mencetak jelas body dan buah dadanya yang berukuran 36B dan dari bokongnya yang nungging terbentuk bulatan penuh menyerupai gunung kembar terlihat celana dalam kecil dan tipis tercetak di blouse bagian belakangnya, paha putih mulusnya jika selagi duduk terlihat celana dalam tipisnya yang berwarna hitam sungguh seksi malam ini.
Trisno tersenyum senang ketika bertemu apalagi melihat Novi terlihat seksi kulihat dia beberapa kali mencuri pandang ke Novi dan ketika kami bertiga berjalan dengan mobil dia beberapa kali berbicara dengan Novi sambil membalikkan tubuhnya ke belakang karena Novi duduk di belakang sementara aku terus menyetir mobil menuju ke karaoke di bilangan Harmoni.
Kita memang ingin santai terutama aku karena untuk melepas stress akibat pekerjaan, bernyanyi dan tertawa di ruang tertutup tentu lebih enak dan puas. Memang betul, dicoba saja walaupun suara anda pas-pasan atau fals, tidak usah anda pikirkan karena semua teman anda tahu bahwa anda bernyanyi dan menikmati suasana untuk melepas beban kerjaan, teriak-teriak saja boleh kok! asal teman anda jangan pada budeg saja jadinya.
Kami bertiga masuk keruangan VIP room di VIP ini ada kursi mebel yang panjang berbentuk huruf U kamar tidur tersendiri dan kamar mandi dalam lengkap. Setelah memesan makanan dengan satu picher bir dan nasi goreng berikut kentang goreng plus kacang mede, kami bernyanyi bersama dan kadang sendiri diselang-seling dengan dansa bertiga dan joged berdua pokoknya semua happy.
Setelah tuntas makan dan minum kembali bernyanyi setelah melihat suasana telah menghangat aku melihat antara Trisno dan Novi adanya perasaan ingin berbincang tanpa adanya aku, maka aku mengambil inisiatif untuk ke bawah, bilangnya untuk mengambil rokok, padahal tinggal pesan saja ke kamar rokok dapat di antar ke kamar.
 

Bagaimanapun juga peristiwa yang lalu sudah berlangsung cukup lama sehingga mereka agak cukup riskan juga untuk lebih mengakrabkan suasana yang ada. Ini terlihat ketika beberapa kali Trisno berusaha lebih mendekatkan diri ke Novi dengan posisi duduk Novi di antara kami berdua terlihat.
Trisno kadang dengan ragu meletakkan tangannya di pundak Novi apabila Novi merebahkan badannya ke sofa, kadang dengan pura-pura bercanda tangannya diletakkan di paha Novi dan Novi juga terlihat canggung, kadang mencubit paha Trisno kadang merebahkan kepala dan badannya ke pundak Trisno dan kepadaku juga dia melakukan hal itu. Akhirnya, “Aku ke bawah dulu ya… mau ambil rokok di mobil.
” kataku. Kulihat Trisno tersenyum, “Saya kalau bisa Marlboro…” kata Trisno. Novi hanya tersenyum, “Yaa sudah saya cariin deh kalau ada warung rokok di seberang jalan,” kataku memberi kesempatan ke mereka berdua untuk waktu yang agak memungkinkan mereka lebih mengakrabkan suasana yang ada karena bagaimanapun Novi adalah kekasihku dan Trisno adalah teman baikku yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Aku keluar ruangan dan segera mengambil rokok di mobil dan segera naik kembali ke atas. Aku sengaja tidak masuk ke dalam ruangan, tapi karena kulihat pintunya yang sebagian tengahnya dari kaca gelap maka aku dapat melihat ke dalam. Aku ingin tahu apa mereka telah akrab kembali? Kebetulan di lantai atas suasananya sepi dan dari luar kaca itu aku dapat melihat ke dalam, karena di dalam ruangan itu lampunya dalam keadaan hidup sementara di luar dalam keadaan gelap.
Biasanya di dalam dimatikan dan hanya diterangi dari cahaya TV yang menyala. Kulihat ternyata posisi Trisno telah berubah sekarang. Mereka terlihat sedang saling berpelukan mesra. Kulihat tangan Novi melingkar ke belakang leher Trisno, sementara tangan Trisno juga memeluk pinggang Novi. Trisno sedang mencium bibir Novi dan ternyata Novi membalas dengan menengadahkan kepalanya ke atas.
Mereka saling melumat, terlihat dari gerakan kepala Trisno dan Novi yang saling berpindah posisi miring kiri dan kanan dengan penuh emosi mereka berdua tengah saling mempermainkan lidahnya. Setelah cukup lama maka tangan Trisno mulai merayapi lekuk lekuk tubuh Novi.
Kadang tangannya meremas bongkahan bokong Novi dan perlahan merayap ke atas dan sampai ke gundukan bukit buah dada Novi dan dengan remasan perlahan tapak tangannya lalu membuat gerakan meremas dan memutar seperti memijat.
Ketika Novi menengadahkan kepalanya ke samping segera Trisno menundukan kepalanya ke gundukan buah dada Novi dan melakukan gerakan mencium buah dadanya dari luar blouse sambil menciumi dada Novi. Dari luar, tangan Trisno menarik tali di pundak kiri Novi lalu menarik tali itu ke bawah melewati tangannya karena dia tidak memakai BH.
Maka tersembulah buah dadanya bagian kiri dengan daging yang putih mulus dengan putingnya yang telah mengeras di muka Trisno. Dengan perlahan lidah Trisno menyapu gundukan bukit buah dada Novi dan kadang menghisap perlahan puting Novi.
Kulihat Novi memejamkan matanya dan mulutnya terbuka. Aku tidak dapat sama sekali mendengar erangan dan desahan Novi karena ruangan itu kedap suara dan juga adanya suara lagu-lagu yang terus berputar di ruangan itu. Tapi itu tidak menghalangi keinginanku untuk terus melihat dari luar tanpa berusaha untuk masuk ke dalam kamar karena aku sudah berjanji kepada Trisno bahwa aku akan membagi semua milikku kepadanya termasuk kekasihku dan aku akan ceritakan di lain kesempatan bagaimana Trisno juga memberikan adiknya kepadaku.
Novi telah birahi, dia menggelinjangkan badannya ketika Trisno terus menghisap putingnya. Sementara tangan kanannya mengangkat pinggul Novi ke atas dan Novi dengan pasrah mengikuti gerakan tangan Trisno yang mengangkat blouse ketat Novi ke atas. Blouse itu berhenti di atas pinggulnya sehingga sebagian pinggulnya yang putih mulus itu telah berada di dalam genggaman tangan Trisno.
Tangan itu terus mengusap dan membelai paha jenjang, sementara celana dalam hitam Novi yang tipis terlihat jelas dan gundukan daging liang kemaluannya tercetak di kain penutup celananya juga terlihat remang-remang bulu-bulu kemaluannya keluar dari atas celana dalam mini Novi.
Tangan Trisno yang kiri kulihat membuka reitsleting celana jeansnya dan kulihat tangannya mengeluarkan kejantanannya yang ternyata telah menegang dan besar lalu mengarahkan tangan Novi untuk memegang batang kejantanannya.
Novi dengan perlahan memegang batang kemaluan tersebut, dan secara perlahan lama kelamaan mulai mengurut batangan itu ke atas ke bawah dan mereka berdua terus memberikan rangsangan kepada lawannya masing-masing. Tangan Trisno kadang meremas bongkahan pantat Novi dan meremas pinggul Novi.
Sementara Novi tangannya terus mengurut batang kemaluannya ke atas ke bawah. Cukup lama mereka melakukan hal itu. Kurasa mereka berdua saling mendesah dan mengerang terlihat dari gerakan bibir dan mulut Trisno dan Novi yang kadang terbuka dan tertutup.
Kadang mereka saling bicara diselingi ciuman mesra layaknya orang bercumbu penasaran dan cemburu pasti ada pada diriku tapi dorongan untuk melihat tindakan mereka berdua lebih kuat di otakku saat ini. Blouse Novi, tali dipundaknya telah terlepas kedua-duanya ke bawah sehingga blouse tersebut kini terlipat di tengah badan Novi, bibir dan lidah Trisno berganti-ganti mengisap dan melumat bukit dada Novi kiri dan kanan membuatnya mengerang dan menggelinjang badannya.
Kulihat Trisno berkata sesuatu ke Novi dan tangan Trisno mengangkat Novi ke pangkuannya kulihat Trisno duduk menyandarkan badannya ke belakang. Sementara Novi duduk di pangkuan Trisno, dengan mesranya tangan Trisno meremas bongkahan pantat Novi sementara mulut mereka berdua saling lumat saling bermain lidah dan kadang tangan Trisno keduanya meremas kedua bukit dada Novi dan Novi pun karena terangsang mulai menggerakkan perlahan pinggulnya maju mundur.
Rupanya batang kemaluan Trisno tengah digesek-gesekkan ke belahan kemaluan Novi walaupun Novi tetap memakai celana mininya yang tipis, tapi aku yakin Novi merasakan gesekan batang kemaluan Trisno di belahan kemaluannya.
Tak kumengerti kenapa Trisno tidak melepas celana dalam Novi yang tipis dan kecil itu padahal tinggal menarik atau menggeser sedikit tutup kain tipis kecil penutup belahan kemaluan Novi, maka liang kemaluan Novi akan terbuka di hadapannya dan tentu batang kemaluan besar itu dapat menerobos belahan liang kemaluannya.
Hanya terlihat tangan Trisno masuk ke dalam celana Novi di bagian pantat dan hanya dengan menggeser kain tipis pada pantat Novi. Jemari Trisno dengan leluasa meremas bongkahan pantat Novi.
Saya hanya bermasturbasi ria sambil menonton atraksi yang menggairahkan itu. Novi terus bergerak di pangkuan Trisno, kedua tangannya merangkul leher Trisno sehingga bukit buah dada Novi tepat berada di muka Trisno. Sementara gerakan pantatnya maju mundur memberikan gesekan pada belahan kemaluannya kadang kepalanya tertunduk dan membuat bukit dadanya menekan muka Trisno saat itu Trisno memberikan sapuan pada bukit tersebut dengan lidahnya.
Pada saat kepalanya terlempar ke belakang, Trisno meremas buah dada itu dengan tangan kanannya melakukan gerakan memuntir perlahan puting Novi. Sementara tangan kirinya menyelinap ke belakang bongkahan bokong Novi dan membantu menggerakkan pinggul Novi maju mundur berirama kadang cepat kadang dengan gerakan lembut.
Lidah dan mulutnya tak kalah sibuk terus melumat dan menjilati sekujur dada, leher dan muka Novi seperti mandi kucing. Kurang lebih lima belas menit mereka berdua bergerak seperti penari erotis dan akhirnya Novi sepertinya telah ejakulasi dengan keluar air kenikmatannya, terlihat dari gerakannya yang perlahan dan lemas dibahu Trisno.
Trisno berbisik dan lalu merebahkan Novi ke kursi panjang itu dengan posisi tetap seperti dalam pangkuan. Maka ketika direbahkan ke kursi posisi Novi dalam keadaan tertindih dengan kakinya yang tetap mengangkang lebar. Sementara kedua paha Trisno berada di antara paha Novi.
Batang kemaluan Trisno dalam keadaan menegang tetap berada di belahan kemaluan Novi yang ditutupi celana mini tipis itu. Tangan Novi memeluk leher Trisno dan bibir mereka kembali saling berpagutan dan terlihat mereka berdua saling bermain lidah. Sementara tangan Trisno tak lepas dari meremas dan membelai bukit buah dada Novi. Lalu Trisno berkata sesuatu ke Novi dan kulihat Novi menggelengkan kepalanya. Yak lama kemudian Trisno perlahan mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Kulihat gerakan itu teratur bergerak naik turun dan kadang menekan. Sementara Novi menengadahkan kepalanya ke atas.
Aku tidak tahu apa mereka bersenggama atau hanya eges-eges (gesek gesek) tapi celana dalam Novi tetap berada pada tempatnya. Kalau melihat gerakan mereka persis seperti orang bersenggama tapi kok celana itu? Trisno terus bergerak maju mundur membuatku penasaran dan batang kemaluanku tegang sendiri.
Memikirkan itu aku panik juga bagaimanapun dia itu adalah cewekku tapi ini kami lakukan hanya untuk untuk membuat dia senang dan mengisi kekosongan di dalam suasana yang BT. Untuk itu aku harus memastikannya aku segera membuka pintu perlahan, tapi ternyata mereka berdua tidak mengetahuinya, pasti karena suara lagu yang diputar cukup keras sehingga mereka tidak tahu dan menyadari adanya kehadiranku di belakangnya.
Dengan berdiri di belakang mereka aku dapat melihat jelas Trisno posisinya dengan bersandarkan pada kedua sikunya sehingga tubuhnya tidak menghimpit badan Novi tapi buah dada Novi tetap saling berhimpitan dengan dadanya. Sedangkan bagian bokong Trisno terus melakukan gerakan memajukan dan menarik pantatnya.
Kulihat Novi mengerang dan mendesah perlahan, tapi aku tidak dapat melihat apakah celana dalam Novi digeser kain penutup depan bagian liang kemaluannya atau tidak karena terhalang oleh body Trisno yang tinggi besar, dan memang celana itu tetap berada di tempatnya hanya merosot sedikit ke bawah.
Terlihat tali celana itu tidak lagi berada di pinggangnya tapi telah berada di pinggul. Penasaran melihat mereka akhirnya aku merasa yakin mereka hanya gesek- gesek, maka aku rebahan di kamar tidur kurang lebih sepuluh menit aku rebahan menenangkan diri.
Ketika telah tenang otakku akhirnya kupanggil Novi ke dalam, “Novvv…” kataku. Tak ada jawaban , “Novvvvv…” kataku lagi. “Yaa…” kata Novi menjawab.
Aku rasa dia berdua kaget kalau aku ternyata telah di dalam. Novi ke dalam dan tersenyum malu dengan wajah merah. “Kenapa sayang…” kata Novi sambil memelukku. “Kamu tadi ngapain…” kataku menyelidik sambil memandangnya gemas. “Kamu kan lihat sendiri…” kata Novi.
“Kamu tidur sini…” kataku menarik dia rebahan di tempat tidur. Tanpa buang waktu ketika dia belum rebahan kulepas baju kaosnya sehingga tinggal celana dalam mininya. Perlahan kujilati buah dadanya, terasa wangi permen menthol. Memang di depan disediakan permen, tapi terus saja kulumat putingnya.
Dia mengerang dan rupanya dia tidak sabar, segera menarik kaosku ke atas serta segera melepaskan celana panjang dan celana dalamku. Rupanya pemanasan yang dilakukan tadi di luar bersama Trisno terlalu lama membuatnya sudah ingin untuk bersenggama. Kejantananku yang sudah menegang segera dipegangnya lalu dihisap dan dilumat ke dalam mulutnya.
Kurasa dia begitu terangsang birahinya karena dalam melumat batang kemaluanku semua ditelannya sampai mentok di tenggorokannya. Kadang bijiku dihisap dan lidahnya bermain di sekujur batang kemaluanku sampai ke buah zakarku dijilatinya. Lidahnya terus bermain-main di ujung kepala kemaluanku dan menggeser-geser belahan lubang kencing kemaluanku. Rasanya… “Uuufff aakkhhh…” desahku.
“Gila banget! Kamu sudah konackhh ya.. Ginnn…” erangku keenakan dan terasa geli kadang meriang (coba saja hal itu dengan pasangan anda pasti meriang itu badan). Gila juga Novi kalau sudah panas dia seperti orang di padang pasir. Habis semua kemaluanku dilumatnya, sementara kulihat dicelananya ada gumpalan cairan membasahi kain celana penutup belahan kemaluannya, seperti bulatan. Rupanya dia sudah banjir dari tadi atau bekas air mani Trisno? Penasaran aku tanya dia, “Kamuuu tadi gituan yaaa…?” tanyaku penasaran.
“Emmmhh… emmhhhff…” dia tidak menjawab hanya terus melumat batang kemaluanku lebih kuat lagi. Digigitnya kepala kemaluanku pelan dan gemas, “Akkhhh… gilaaa kamuuu…” kataku. B
atang kemaluanku mengeras kuat seperti besi balok. Kubiarkan dia memuaskan hasratnya melumat habis kejantananku dari ujung sampai pangkalnya. Momen ini kunikmati dan segera kubuka celana dalamnya, ternyata kemaluannya telah basah dan lembab. Saat kubelai belahannya masih terasa rapat, jadi mungkin dia belum sampai sejauh itu, pikirku.
“Kamu di atas Nov…” kataku menarik badannya ke atas menduduki pinggangku. Perlahan dengan tangannya yang menggenggam batang kemaluanku mulai diarahkannya ke lubang kemaluannya. Kepala kemaluanku perlahan ditekan dengan bibir kemaluannya dan perlahan membelah bibir kemaluannya yang telah basah membuat lebih mudah kepala batang kemaluan itu menyusup belahannya.
Terus Gina menekan ke bawah pinggulnya dan, “Akhhh…” erang Novi. “Enaaakkk… aduuhhh pelan-pelan, enakkk…” desahnya. “Uufff… yaa enaakk…” desahku keenakan. Pelan-pelan batang kemaluanku makin lama makin tenggelam ke dalam liang kemaluannya. “Akkkh… masuuukkk… ookkhh kontolllu… akkkggg… ennnakkkk…” erang Gina terpejam.
“Gilaaa… liang kemaluan kamuuu… masih rapat Ginnn…” kataku sambil menghentakkan pinggulku ke atas dan menariknya ke bawah perlahan seperti slow motion berulang kali. Setelah sepuluh kali dengan gerakan itu, terasa telah dengan bebas dan mantap terkendali kemaluanku menyodoknya. Lama kemudian gerakan batang kemaluanku makin mantap menyodok liang kemaluan Gina.
Dengan sepenuh tenaga kugerakkan pinggulku naik turun tanpa henti sebanyak dua puluh kali membuat Novi berteriak sambil matanya terpejam histeris, “Aaakk.. akhhh.. akkkhh… oohhkkk… aahhh.. uufff… aduhhhh… giilllaa… aahhh… aadduuhh…” terengah Novi.
Sangat bergairah dia dengan gerakanku membuatnya membalas gerakanku dengan hentakan kasar. Novi segera menghentakkan pinggulnya cepat kadang dia melakukan gerakan memutarkan pinggulnya sehingga terdengar bunyi “Brreeoott… brreettt… brreeeoott…” Rupanya telah banjir sekali di dalam liang kemaluannya tapi dinding kemaluannya tetap menjepit batang kemaluanku. “Luar biasa, gila kamuuu hot bangetttt.. Ginnn…” kataku.
“Gue mauuu yang kuattt… yang kuattt nekannya ahhkkk.. yang panjang kontolnyaa… akkkhh terusss ngentotin kontolnya… akkgg…” erang Novi histeris. Kurasa Trisno juga mendengar erangan Novi karena pintu kamar tidak kututup ketika Novi masuk tapi biar saja dia terangsang, pikirku.
Selang lima belas menit ternyata gerakannya makin panas saja. Habis sudah kemaluanku dihisap ditarik di dalam liang kemaluannya. Sementara badannya telah keringatan, “Aahh… aaahhkkk… uufff… ennaakk…” desah kami berdua. Kadang aku sengaja mengangkat pantatku tinggi-tinggi dan dia menekan kemaluannya makin ke bawah terus pinggulnya berputar-putar sehingga terdengar bunyi “Breeet brett brrett…” Terasa panas di sekitar batang kemaluanku.
Kuat juga aku telah dua puluh menit dengan gerakan yang membuat keringat membanjir tapi sampai saat ini belum terasa juga kalau air maniku akan keluar. Biasanya yaaa dengan gerakan yang seperti biasa paling lama sepuluh menit keluar air maniku. Mungkin karena aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa kuat dari teman baikku.
Yang jelas batang kemaluanku dalam keadan stabil menegang terus dan gerakanku tidak berubah. Kadang lembut dengan hentakan yang kuat dan kasar dengan gerakan memutar dan mengocokkan batang kemaluanku terasa seperti membor lubang kemaluannya dan ternyata Novi menyukai gerakan dan hentakan yang kulakukan.
“Giiilaaa.. kamu kuat sekali… tumben tuh… oohh gue puaasss…” desah Novi keenakan dengan tersenyum puas. “Ya sudah lama ya Nov, nggak beginii…” desahku. Karena tidak keluar-keluar juga ini air mani, akhirnya kami kecapaian sendiri. Dalam keadaan terengah-engah keenakan kami berhenti sebentar. Akhirnya aku tanya ke dia, “Bagaimana kalau kita istirahat dulu Nov..” ternyata dia mengangguk setuju dengan muka memerah dan keringat di dahinya menetes. Aku usul lagi,
“Kita keluar yukk… Nov.. kasihan Trisno… sendiri di luar,” kataku. Tanpa bertanya lagi Novi lalu melepas segera batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Rupanya dia juga belum tuntas dan keluar dari kamar berjalan dengan telanjang bulat. Dia keluar sendiri, sementara aku menjadi bengong. Ternyata Novi tanpa bertanya lagi keluar kamar dalam keadaan badan telanjang bulat.
Gillaa! sudah konak dia rupanya. Beraninya dia telanjang bulat menemui Trisno di ruang depan. Aku tersentak, segera ke kamar mandi mencuci kemaluanku yang telah basah oleh karena air kenikmatan dari liang kemaluan Novi. Di kamar mandi aku berpikir ngapain Novi di luar bersama Trisno, tentunya Trisno terkejut dengan kehadiran Novi yang telanjang bulat di hadapannya. Setelah cukup lama di kamar mandi membersihkan diri sekitar kemaluanku. Perlahan aku keluar kamar dan berdiri di pintu. Kulihat sesuatu yang telah membuat aku terkejut. Gila! aku jadi terangsang sendiri melihatnya.
Novi ternyata dalam posisi yang sangat seksi sekali. Mungkin Novi telah tinggi birahinya. Sepertinya telah terangsang penuh birahinya dan tanpa malu dan ragu lagi dia dalam posisi menungging. Dalam posisi menungging di atas kursi dalam keadaan telanjang bulat. Terlihat tubuh putih mulusnya dengan lekuk tubuhnya, bokongnya putih mulus dan pinggul yang cukup besar pinggangnya yang ramping.
Bokongnya yang tinggi ke atas dan buah dadanya menjuntai keras membentuk bulatan dengan putingnya yang telah mengeras, rambutnya yang hitam dan panjang lurus sebagian tergerai kesampingnya, sebagian lagi menutupi pundaknya yang halus dengan bulu-bulu halus di sekitar pundaknya menambah seksi posisinya. Sementara tangan kiri Trisno mengusap dan membelai serta kadang meremas bongkahan pantat Novi yang sedang menungging itu. Tangan kanan itu meremas buah dada Novi dengan remasan perlahan dengan jemari menjepit puting Novi.
Trisno telah menarik celananya sendiri berikut celana dalamnya ke bawah di antara lututnya. Batang kemaluannya terlihat menegang keras dan besar dengan bulu-bulu kemaluan yang berwarna hitam. Sedangkan kepala kemaluannya berwarna merah dengan diameter ukuran botol Aqua 600 ml.
Ukuran batangnya panjang 23 cm, diameter batangnya 6 cm. Terlihat kepala kemaluannya tengah dicium-cium oleh bibir Novi. Novi ternyata sedang asyik menciumi kepala batang kemaluan dan belahan air kencingnya. Dengan posisi menungging, dalam keadaan telanjang bulat, perlahan-lahan mulut itu menelan kepala dan batang kemaluan itu. Hampir tidak muat mulut Novi menelan kepala itu.
Mulutnya harus membuka selebar-lebarnya dahulu baru dapat mengulum batang kemaluan Trisno. Perlahan dan tak lama kemudian terlihat kepala Novi naik turun ke atas ke bawah dan kadang lidahnya menjilati batang kemaluan Trisno yang besar.
“Aahh Gooddhhh…” desah Trisno terpejam keenakan. Sementara Novi hanya mengerang karena tangan Trisno terus memberi remasan di sekitar kemaluannya. Terlihat tangan kiri Trisno menyusup dari bawah badan Novi dan berhenti jemarinya ketika berada di belahan selangkangan paha Novi. Jarinya bergerak membelai belahan kemaluan Novi yang telah basah. Setelah kurang lebih lima menit menyaksikan adegan yang mendebarkan jantung, perasaanku berdebar kencang karena terangsang.
Aku benar tidak sabar melihat adengan itu. Kemaluanku mengeras kembali malah lebih keras dari yang tadi pada saat bersenggama di dalam kamar. Dalam keadaan telanjang bulat dengan batang kemaluan menegang aku menghampiri mereka. Kulihat mereka kaget, “Oopppss…” kata Trisno kaget. “Sorry gue nggak tahan…” kataku. Tanpa permisi lagi kuambil posisi di belakang bokong Novi yang polos dan dengan berjongkok di belakang Novi, mulutku langsung menjilati kemaluan Novi.
Ternyata Trisno hanya tersentak sedikit tapi dia terus malah mengangkangkan kakinya lebih lebar sehingga belahan kewanitaan Novi itu lebih terkuak membuka, sehingga klitorisnya terlihat dan segera kujilati klitorisnya dan kumainkan lidahku di sekitar klitorisnya. “Aakkhh emhhff ahhh mmhhh aauufff… ahh…” desah Novi dengan kepalanya yang makin cepat bergerak naik turun di selangkanganku. Sementara tangan keduanya telah meremas buah dada Novi. Terus kumainkan belahan liang kemaluannya dan kadang lidahku menerobos masuk ke dalam belahannya terus mengkilik-kilik sekitar klitorisnya yang terlihat memerah.
“Emmhhpp… emmppphh… ahhh…” dia mengerang keenakan. Kurasakan dia menggerakan pinggulnya dengan irama dangdut, yaitu menggerakkan perlahan bokongnya serta meliuk-liukan badannya dan berkedut-kedut liang kemaluannya, “Emmfff… mmmbhh…” kadang badan Novi di angkat ke atas dengan cara menekan buah dada Novi ke atas. Ketika itu bibir kami berdua saling berpagutan desahnya tidak tahan lagi dan terus tangannya mengarahkan kepala kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya dan perlahan,
“Ahhkkk… aah ahhh… oohhh… ennaakknyaaa…” erang dan merintih dalam kenikmatan kemaluanku masuk perlahan. Tak lama batang kemaluanku dalam hitungan detik tenggelam sudah di dalam liang kemaluan Novi yang telah basah dan hangat dinding liang kemaluannya. “Aahh… aahhh… aahhkk… dorong yang kerass.. ahk yaaa… aahkkk dorong terusss…. yyaa… ahkk tekan yang dalammm… eennaakhh…” rintih Novi sambil terus mengikuti gerakan dorongan pinggulku yang menghentakkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam lubang kemaluannya.
“Bleeppss… sleepss… bleebss… slleeppss bblleppss… slleppsss…” “Aahhh… aahhh aahh eenaaknya… kamuuu… gilaa luaarr biasaa… enakkk ngentotin kamu Giinnn… akkhh…” erangku kenikmatan terasa hangat batang kemaluan. Dengan posisi kuda-kuda yang sangat mantap kakiku terasa menapak bumi tidak bergeser dalam menggerakkan pinggulku maju mundur sehingga pusat tekanannya dapat kupusatkan kepada batang kemaluanku yang terus menggenjot atau menggelosor keluar masuk belahan liang kemaluannya.
Dengan gerakan seperti menyalurkan tenaga dalam maka nafasku dari seputar perut kuatur semua gerakanku sehingga gerakan yang terjadi bukan melalui pikiran tapi telah digerakkan secara otomatis melalui sekitar pinggulku nafasku perlahan dalam satu kali tarikan nafas, aku dapat menghujamkan kemaluanku sebanyak tiga kali atau bisa sampai tujuh kali. Pada saat melepas nafasku, keluar gerakan kulakukan berputar sekitar pinggulku, sehingga otomatis batang kemaluanku melakukan gerakan berputar dua atau berkali-kali di dalam liang kemaluannya.
“Aahkkk… akhh… gilaaa… gilaaa… akkhhh… akhhh… gilaaa… enakk… enaakk… ahhh… uuuff… adduhh… enaknyaaa… aaookhhh…” Novi merintih dan mengerang. Trisno melihat kepadaku dengan pandangan tidak percaya kalau aku dapat melakukan gerakan seperti itu yang membuat Novi kelojotan dan bergetar seluruh persendian badannya. Baru tahu dia, pikirku tersenyum kepadanya dan rupanya membuatnya menjadi terangsang.
Kulihat matanya saat itu terbelalak ketika melihat batang kemaluanku keluar masuk teratur dengan nafas yang teratur juga. Batang dan kepala kemaluannya memerah dalam cengkeraman tangan Novi. Batangnya makin lama makin mengeras, karena Novi makin lama dia tidak dapat mengcengkeram diameter batang kemaluan itu.
Novi makin mempercepat gerakan tangannya menarik dan melakukan gerakan memutar atau seperti memelintir batang itu. Ternyata Novi hanya tahan sepeluh menit di dalam menghadapi adukan batang kemaluanku yang mengamuk di dalam liang kemaluannya hingga dia melenguh dalam rintihan, “Aahhh… aakkhhh… ooohhhh gueee keluaarr…” badannya bergetar hebat dan matanya terpejam dan mulutnya terbuka menganga lebar.
Trisno terpaku memandang Novi yang ejakulasi dengan badan yang bergetar dan akhirnya Trisno rupanya tidak tahan melihat keadaan yang ada di hadapannya dan yang juga terjadi pada batang kemaluannya. Sehingga matanya membelalak dan lalu terpejam, “Aahhkk aaahhh… ahhkkk…” keluar air maninya di dalam genggaman tangan Novi. Air mani itu meleleh di jari-jari Novi. “Ha.. haa haa…” aku tersenyum penuh kemenangan.
Kalah lama dia karena aku sendiri belum apa-apa saat ini. Setelah Novi mengelap tangannya dengan tissue basah, kutarik dia untuk gantian duduk di atas pangkuanku. Dengan posisi saling berhadapan kemaluanku menghujam kembali ke dalam liang kemaluannya dan gantian dia yang bekerja dengan gerakan memutarkan pinggulnya dan gerakan memaju-mundurkan bokongnya dan kadang kurasa liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluanku. Rupanya dia ingin membuatku keluar juga air maniku.
Setelah lebih kurang sepuluh menitan dia membuat batang kemaluanku kerja keras. Kulihat dia juga telah mau keluar lagi mengerang. Dia, “Aahhkk… akhh ahhh gue mauuu keluaarrr… lagii… samaa-samaaa kamuuuu keluarrr jugaa… yaaa…” erang Novi. “Aahhh yyaaa barenggg Nov… guee juga ampirrrr… keluarr… aahhkk aakkhh… yaakkk keluuaaarr… ahkkk akhh…” erang Novi dan aku bersamaan, “Aahhh… giilaa…. eenaakk… puasss gueee,” rintih Novi. Keluar sudah dan tuntas birahi yang menghimpit dan menggunung di dada ini. Ada barangkali lima semprotan air maniku keluar membasahi seluruh rongga dalam liang kemaluannya sampai akhirnya kulepas batang ini.
Puas sekali. Setelah berbenah diri, mencuci dan membersihkan bekas-bekas yang ada dan ternyata kami telah memakai ruangan itu selama tiga jam dan habis total cuma Rp. 375.000 untuk semua all in, siiplah.